BAB 1
PENDAHULUAN
A.Latar belakang
Keperawatan perioperatif merupakan tahapan awal dari keperawatan perioperatif. Kesuksesan tindakan pembedahan secara keseluruhan sangat tergantung pada fase ini merupakan awalan yang menjadi landasan untuk kesuksesan tahapan-tahapan berikutnya. Kesalahan yang dilakukan pada tahap ini akan berakibat fatal pada tahap berikutnya. Pengkajian pengkajian secara integral dari fungsi pasien meliputi fungsi fisik biologis dan psikologis sangat diperlukan untuk keberhasilan dan kesuksesan atau operasi.
Fase operatif dimulai ketika ada keputusan untuk dilakukan intrvensi bedah dan diakhiri ketika pasien di kirim ke meja operasi. Lingkup aktivitas keperawatan Selama waktu tersebut dapat mencakup penetapan pengkajian dasar pasien dibtatanan klinik ataupun rumah. Wawancara peripoeratif dan menyiapkan pasien untuk anastesi yang di berikan pembedahan,
Tindakan operasi atau pembedahan, baik elektif ataupun kedaruratan adalahperistiwakomplek yang menegangkan Kebanyakan prosedur bedah dilakukan dikamar operasi rumah sakit. Meskipun bebrapa prosedur yang lbh sederhana tidak memerlukan hospitalisasi dandilakukan di klinik2 bedah dan unit 2 bedah kecil Individu dgn masalah kesehatan yg memerlukan intervensi pembedahan mencangkup pula pemeberian anastesi atau pembiusan yg meliputianastesi lokal, regional dan general (umum) .
Prosedur tindakan pembedahan semakin mengalami kemajuan yg sangat pesatDimana perkembangan tehnologi mutakhir telah mengarahkan kita pada penggunaan prosedur bedah yg lebih komplek dengan menggunakantekhnik2 bedah mikro (micro surgery techniques) atau penggunaan laser, peralatan by pass yg lebih canggih dan peralatan monitoring yg lebih sensitif. Kemajuan tehnik pembedahan dan tehnik anastesi tentunya harus di ikuti oleh peningkatan masing2 personil (terkait dgn tehnik maupun komunikasi psikologis)
B.tujuan
Tujuan dibuat makalah ini adalah untuk memberikan penegetahuan dan bahan pembelajaran bagi mahasiswa tentang tatanan dokumentasi keperawatan pada periopertif yang baik dan benar sehingga bias mengaplikasikan di lapangan serta sebagai sarana bagi pembaca sebgai sumber bacaan yang mudah dipahami dan di mengerti.
BAB II
ISI
DOKUMENTASI KEPERAWATAN PADA TATAN AN PERIOPERATIF
A.pengertian
Dokumentasi keperawatan di lingkungan perioperatif sama dinamis dengan kemajuan teknnologi di area ini. Proses keperawatan, disertai dengan diagnosis keperawatan, telah mengeembangkan sedikit demi sedikit metode dokumentasi yang sistematik dan berdasarkan pemikiran yang sesuai dengan kebutuhan pasien berkaitan dengan persiapan untuk pembedahan, prosuder, dan hasil dari fase pemulihan.
Dalam area perioperatif ada persyaratan dokumentasi aktivitas keperawatan di area perioperatif, pencapaian target seperti pendidikan pasien dan keluarga, evaluasi pengkajian atau nilai normal praoperatif, intervensi keperawatan sesuai dengan respon klien, dan evaluasi efek intervensi sebagai bukti dari hasil asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasein.
1. Dokumentasi pramasuk ruang bedah
Sebelum melakukan pembedahan elektif ada tes masuk atau penyuluhan kepada pasien atau keluarga biasanya terjadi dalam waktu satu atau dua minggu sebelum pembedahan. Rencana keperawatan dan pendokumentasian harus terdapat dalam catatan pasien sebelum pelaksanaan. ( JCAHO, 1996 ). Dalam menyeleseikan dokumentasi keperawatan pada tahap ini biasanya memerlukan rentang waktu karena pendokumentasian harus sangat spesifik, pencatatan pengkajian pada ruang bedah digunakan format terpisah penyuluhan pasien, keluarga, dan format multihalaman untuk mencatat semua tahapan proses perioperatif , misalkan bukti proses keperawatan ( pengkajian, diagnosis, perencanaan, implementasi, dan evaluasi ) harus didokementasikan pada format tersebut.pasien pada bedah darurat harus menerima pengkajia dan intervensi yang sama dengan pasien yang mengalami pembedahan elektif, jika waktu tak tersedia maka perawat harus membuat catatan tentang sifat darurat pembedahan ynag dijalani pasien, penyeleseian pengkajian keperawatan, upaya yang dilakukan untuk memberi penyuluhan keluarga atau orang dekat lainya, kekhawatiran yang diungkapkan pasien, dan inervensi yang dilakukan.
Proses pramasuk sering dimulai dengan wawancara pasien yang dirancang untuk mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan kondisi pasien, pengetahuan pasien tentang kondisinya,system pendukung pasien, dan rencana untuk periode pemulihan. Pengumpulan sampel untuk tes diagnostic dan tes laboaratorium juga dimulai pada fase ini. Joint commission menekankan bahwa riwayat dan informasi fisik pasien harus sudah dikumpulkan dalam 30 hari sebelum masuk ruang bedah atau pelaksanaan prosedur diagnostic serta tes diagnostic prabedah harus diseleseikan dan dicatat sebelum pelaksanaan prosedur (JCAHO, 1996).
2. PENYULUHAN PASIEN DAN KELUARGA PRA/PASCA BEDAH
Penyuluhan pasien harus memegang peranan penting dalam pemulihan kesehatan pasien. Kebutuhan pembelajaran harus dikaji secara cepat untuk menentukan kebutuhan penyuluhan dan pemulihan tujuan pemulihan pada pasien. Pasien dan keluarganya harus mampu mengidentifikasi pembedahan yang sudah dijadwalkan dan adanya pesiapan atau intruksi terkait yang dilakukan sebelum pelaksanaan prosedur pengetahuan pasien tentang obat-obatan terakhir dan prabedah harus didokumentasiakan disertai dengan kemungkinan adanya interaksi makanan dan obat. Member pengetahuan kepada pasien terhadap periode prabedah dan pascabedah untuk menyiapkan pasien terhadap perawatan, aktivitas yang diperbolehkan pasca bedah, dan kebutuhan terhadap alat atau orang pendukung. Tanda dan gejala yang mengharuskan pasien agar segera menghubungi dokter missal ( demam, muntah, drainase, nyeri dan perdarahan ).
3. PENDOKUMENTASIAN ASUAHAN KEPERAWATAN PERIOPERATIF
Pada hari pembedahan, pasien dan keluarga dapat mengalami antisipasi dan stress yang sangat berat. Kecemasan pasien, tuntutan keluarga, dan komitmen lain mengaharuskan perawat yang menerima pasien mengklsaifikasikan bahwa sudah dilakukan semua instruksi yang diperlukan. Daftar periksa cepat prabedah banyak digunakan untuk memastikan bahwa hal-hal dari standar sudah dilakukan pada pasien. Format ini sering mencantumkan daftar hal yang dperlukan individu untuk memfasilitasi dilakukannya pembedahan yang baik dan menghilangkan atau mengomunikasikan masalah-masalah potensial. Daftar tersebut dapat mencakup hal-hal dasar seperti memverivikasi, informasi gelang identitas, memastikan bahwa pasien sudah dipuaskan, memastikan bahwa informed consent sudah ditandatangani, melakukan persiapan pembedahan,mengamnkan barang-barang berharga yang di bawa ke rumah sakit. Format ini harus spesifik untuk institusi yang menggunakanya dan harus menjadi tempat penyimpanan yang mudah diakses. Apabila daftar periksa cepat prabedah sudah diseleseikan, pasien kemudian dipindahkan ke area pembedahan untuk pengkajian prabedah oleh perawat perioperatif. Setelah proses penyuluhan selesei, area pengkajian berikutnya adalah identifikasi data dasar fisiologis dan psikososial pasien serta pembuatan rencana asuahan keperawatan berdasarkan diagnosis keperawatan pasien.menurut association of operating room nurses (AORN) praktek yang direkomendasikan untuk pendokumentasian rencana asuhan keperawatan perioperatif adalah bahwa dokumentasi tersebut “ harus mencerminkan rencana perawatan pasien, termasuk pengkajian, diagnosis, identifikasi hasil, perencanaan, implementasi dan evaluasi” (AORN, 1996).
4. STANDAR HASIL DAN DIAGNOSIS KEPERAWATAN
AORN (1983) pertama kali menerbitkan patient outcomes and standards for perioperative care pada tahun 1983. Pada tahun 1991, mereka mengganti nama tersebut menjadi patient outcomes : standards of peripoerative care (1991). Pergeseran kea rah respons yang dapat diobesrvasi dan dapat diukur pada asuahan keperawatan perioperatif memungkinkan pedoman untuk mengevaluasi respon pasien terhadap intervensi keperawatan tertentu. Tabel 12-1 berisi tentang patient outcomes: standards of perioperative care yang diterbitkan oleh AORN pada tahun 1997. Standard individu mudah digunakan untuk referensi lain berbagai diagnosis keperawatan, dan standard yang tercantum member tindakan keperawatan konkrit disertai parameter yang dapat diukur untuk mengevaluasi status pasien. Praktik membuat standard rencana keperawatan merupakan hal yang umum dilakukan pada saat ini di lingkungan kamar bedah. Penggunaan standard AORN dan criteria mereka yang dapt diukur harus terlihat dalam rencana perawatan dan pendokumentasian implementasi rencana tersebut.
5. DOKUMEN RENCANA PERAWATAN
Alat dokumentasi perioperatif harus memiliki bagian identifikasi yang mencerminkan sudah tersedianya data demografi pasien yang terbaru, disertai tanggal dan waktu yang benar. Bagian sering mencakup nama pasien, alamat, nomor rekam medis, nomor jaminan social, usia, tanggal lahir, suku, jenis kelamin, agama, jenis asuransi, dan nama dokter yang memeriksa. Informasi ini harus selalu diverivikasi untuk memastikan kelengkapan dan keakuratan dokumentasi. Informasi lain yang harus ada dalam bagian ini adalah riwayat alergi, diagnosis prabedah, prosedur natisipasi, ahli bedah, metode anastesi, serta ahli anastesis. Catat juga anggota tim bedah, termasuk identifikasi perawat scrub, circulating, dan relief. Waktu kedtangan pasien di kamar operasi, cara transportasi, dan alat keamanan yang menyertainya merupakan hal penting dalam menentukan tingkat fungsi pasien prabedah. Riwayat dan informasi fisik, hasil tes laboratorium, serta ketersediaan darah atau alt khusus juga harus dikonfirmasikan pada saat ini.
Verifikasi tentang identifikasi pasien, prosedur yang akan dioperasi (jika perlu ) dan peesetujuan pasien harus berkaitan dengan pemebedahan yang akan dilakukan. Catat juga tingkat kesadaran pasien, terutama pada saat persetujuan ditandatangani, sampai pasien berbicara pada ahli bedahnya.laporan legal juga sering dibuat karena adanya ketidaksesuaian antara persetujuan dengan komunikasi verbal pasien pada saat pembedahan. Pencatatan yang jelas tentang status mental pasien dan adanya komentar tertentu yang dibuat berkaitan dengan persetujuan tersebut dapat mempengaruhi keputusan juri dalam kasus malpraktek. Adanya keterbatasan fisik, mental, atau psikologis harus dikomunikasikan antara perawat prabedah dan perat ruang operasi. Masalah pada area tersebut harus segera diatasi melalui rencana asuahan keperawatan. Sebagai contoh, perawat yang merawat pasien dengan gangguan pengihatan harus menyiapkan diri untuk memeberikan instruksi verbal pada pasien tentang apa yang aka terjadi di sekitar pasien. Infprmasi ini harus dikomunikasikan secara dini dalam proses tersebut, dan jika perlu komunikasi harus terus dilakukan Selama pembedahan berlangsung.
6. SUMBER-SUMBER LIABILITAS
Bagian ini mendiskusikan sumber-sumber liabilitas dan saran untuk dokumentasi. Masalah liabilitas yang didiskusikan meliputi pengkajian kulit, posisi dan keamanan pasien, termasuk penggunaan alat elektrik, jumlah alat ( missal, jarum dan spon ), pemberian obat, dan inserasi implan. Pengkajian kulit merupakan bagian inti dalam perawatan pasien praoperatif. Kulit, sebagai penghalang utama stressor luar, melindungi pasien dari trauma yang berkaitan dengan tekanan atau benda asing, kehilangan cairan dan panas, dan masuknya organisme infeksius. Kulit harus dikaji untuk tanda-tanda luka, area tekan, pertumbuhan, sensasi abnormal, warna, dan sirkulasi yang buruk. Informasi ini sangat penting ketika akan memposisikan pasien, menyiapkan kulit, dan memasang alat bantu, seperti turniket. Catatan tentang jenis larutan persiapan yang digunakanya dan siapa yang melakukanya.
Salah satu penyebab liabilitas OK yang paling sering adalah tertinggalanya spon, jarum, atau instrument di dalam tubuh pasien. Cedera pada pasien untuk kasus semacam itu sering menimbulkan ganti rugi financial yang sangat besar, seperti pada gambaran pada kasus-kasus ini,
“ seorang wanita berusia 53 tahun baru- baru ini mendapat ganti rugi $400.000 karena adanya spon yang tertinggal di dalam abdomenya ketika menjalani histerektomi. Spon tersebut tidak terdeteksi Selama 17 hari, smapai terjadinya dilatasi usus karena onstruksi ileus. “ selama pembedahan berikutnya, gigi pasien terlepas dan tekanan darahnya menjadi sangat rendah dan dia menderita stroke. ( laska, 1997 ).
AORN mengajarkan praktik menghitung alat sebagai suatu tindakan keamanan. Tetapi kebijakan intitusi harus menyatakan secara spesifik apa yang harus dihitung. “ spon harus dihitung disemua prosedur ketika terdapat kecenderungan bahwa spon tersebut akan tertahan di dalam”. (AORN, 1997). Setelah melakukan penghitugan awal, penghitungan berikutnya harus dilakukan seelum penutupan rongga di dalam rongga dan penutupan kulit. Catatan ini terdapat 2 bentuk yaitu lembar kerja dan catatan jumlah yang terpisah.Lembar kerja biasanya spesifik dengan jenis baki instrumennya. Lembar ini kemudian diserahkan dari perawat scrub ke pesawat circulating untuk perhitungan ulang.
Metode pendokumentasian jumlah instrument yang umum digunakan adalah memakai catatan hitungan terpisah kemudian dimasukkan kedalam catatan pasien OK. Informasi harus mencakup nama perawat yang menghitung, aktivitas perhitungan, dan kebenaran, dan kebenaran semua jumlah. Kebijakan mengintruksikan protocol untuk mencari dan melakukan prosedur sinar-x untuk mencari alat yang hilang, tetapi hal ini tetap harus dilaporkan secara khusus kepada ahli bedah dan dicatat sebagai bukti kepatuhan perawat terhadap kebijakan.
DOKUMENTASI SPESIFIK PEMBEDAHAN
Area khusus di OK sering membutuhkan peralatan dan prosedur spesifik yang semuanya harus dicatat. Selain hal-hal umum yang sudah dicatat, wacana berikut ini menjelaskan hal-hal yang harus dimasukan kedalam dokumentasi spesifik pembedahan.
A.Bedah Saraf
B.Bedah Jantung, Toraks, dan Vaskular
C.Prosedur Endoskopik Gastrointestinal
D.Pembedahan Genitourinaria
E.Kelahiran Seksio Sesaria
F.Bedah Ortopedi
G.Sedasi Sadar
H.Prosedur Anastesi Lokal
DOKUMENTASI KEDARURATAN PRABEDAH
A.Syok dan Hemoragi
B.Hipertermi Malignan
C.Trauma
D.Forensik
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tatanan atau gambaran umum tentang dokumentasi keperwatan pada peri operatif adalah asuhan keperawatan yang diberikan (pre operatif ), selama (intra opertif ), dan setelah pembedahan (post operatif ).pendokumentasian pada tahap peri operatif sangat penting karena menyangkut keberhasilan atau tidaknya pembedahan dan sebagai bukti legal apabila terjadi masalah pada saat pembedahan.
B. saran
Kita sebagai perawat harus mempelajari benar-benar tentang pendokumentasian peri operatif karena menyangkut masa depan dan menyangkut nyawa pasien atau klien.pada setiap tahapan perioperatif harus selalu di catat untuk pendokumentasian yang legal ,apabila ada maslah pada saat pembedahan kita bias memberikan bukti kalau yang kita lakukan sudah memenuhi prosuder yang ada.mempelajari ini sangat penting bagi perawat.
nurulisnaeni
Sabtu, 21 April 2012
askep morbili
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latarbelakang
Campak adalah endemik pada sebagian besar dunia. Campak sangat menular,sekitar 90% kontak keluarga yang rentan mendapat penyakit. Campak jarang subklinis. Sebelum penggunaan vaksin campak, puncak insiden pada umur 5-10tahun, kebanyakan orang dewasa imun.Sekarang di Amerika Serikat. Campak terjadi paling sering pada anak umur sekolah yang belum di imunisasi dan pada remaja dan orang dewasa muda yang telah di imunisasi. Biasanya penyakit ini timbul pada masa anak dan kemudian menyebabkan kekebalan seumur hidup
Bayi yang dilahirkan oleh ibu yang pernah menderita morbili akan mendapat kekebalan secara pasif (melalui plasenta) sampai umur 4-6 bulan dan setelah umur tersebut kekebalan akan mengurang sehingga bayi/anak dapat menderita morbili. Bila seseorang wanita menderita morbili ketika hamil 1 atau 2 bulan, maka 50% kemungkinan akan mengalami abortus, bila ibu hamil menderita morbili pada trimester I, II, atau III maka akan mungkin melahirkan seorang anak dengan kelainan bawaan atau seorang anak dengan BBLR, atau lahir mati atau anak yang kemudian meninggal sebelum usia 1 tahun. Campak adalah penyakit infeksi virus akut, menular yang ditandai dengan tiga stadium, yaitu stadium kataral, stadium erupsi, dan stadium konvalesensi. Nama lain penyakit ini adalah campak, measles, atau rubeola. Penularan terjadi secara droplet dan kontak langsung dengan pasien. Virus morbili terdapat dalam sekret nasofaring dan darah selama stadium kataral sampai 24 jam setelah timbul bercak di kulit.
A. Tujuan
1. Tujuan Umum
• Mengetahui penatalaksanaan kasus anak dengan Morbili
2. Tujuan Khusus
• Memahami proses terjadinya penyakit Morbili
• Memahami pengkajian kasus anak dengan Morbili
• Memahami perumusan diagnosa pada penyakit Morbili
• Memahami perumusan intervensi pada penyakit Morbili
BAB II
TINJAUAN TEORI
1. Definisi
• Morbili adalah penyakit infeksi virus akut yang ditandai oleh tiga stadium yaitu stadium kataral, stadium erupsi, dan stadium konvalensi (Suriadi, 2001: 211).
• Morbili adalah penyakit infeksi virus akut, menular yang ditandai dengan 3 stadium, yaitu stadium kataral, stadium erupsi, dan stadium konvalesensi. (Mansjoer, 2000 : 47).
• Campak adalah organisme yang sangat menular ditularkan melalui rute udara dari seseorang yang terinfeksi pada orang lain yang rentan (Smeltzer, 2001: 2443)
2. Etiologi
Campak adalah penyakit yang disebabkan oleh nfeksi virus Rubella, karena itu campak juga sering disebut Demam Rubella. Virus penyebab campak ini biasanya hidup pada daerah tenggorokan dan saluran pernapasan. Virus campak dapat hidup dan berkembang biak pada selaput lendir tenggorokan, hidung dan saluran pernapasan. Anak yang terinfeksi oleh virus campak dapat menularkan virus ini kepada lingkungannya, terutama orang-orang yang tinggal serumah dengan penderita. Pada saat anak yang terinfeksi bersin atau batuk, virus juga dibatukkan dan terbawa oleh udara. Anak dan orang lain yang belum mendapatkan imunisasi campak, akan mudah sekali terinfeksi jika menghirup udara pernapasan yang mengandung virus. Penularan virus juga dapat terjadi jika anak memegang atau memasukkan tangannya yang terkontaminasi dengan virus ke dalam hidung atau mulut. Biasanya virus dapat ditularkan 4 hari sebelum ruam timbul sampai 4 hari setelah ruam pertama kali timbul.
3. Patofisiologi
Penularannya sangat efektif, dengan sedikit virus yang infeksius sudah dapat menimbulkan infeksi pada seseorang. Penularan campak terjadi melalui droplet melalui udara, terjadi antara 1-2 hari sebelum timbul gejala klinis sampai 4 hari setelah timbul ruam. Di tempat awal infeksi, penggadaan virus sangat minimal dan jarang dapat ditemukan virusnya. Virus masuk kedalam limfatik lokal, bebas maupun berhubungan dengan sel mononuklear mencapai kelenjar getah bening lokal. Di tempat ini virus memperbanyak diri dengan sangat perlahan dan dari tempat ini mulailah penyebaran ke sel jaringan limforetikular seperti limpa.
Sel mononuklear yang terinfeksi menyebabkan terbentuknya sel raksasa berinti banyak Sedangkan limfosit T meliputi klas penekanan dan penolong yang rentan terhadap infeksi, aktif membelah. Gambaran kejadian awal di jaringan limfoid masih belum diketahui secara lengkap, tetapi 5-6 hari setelah infeksi awal, fokus infeksi terwujud yaitu ketika virus masuk kedalam pembuluh darah dan menyebar ke permukaan epitel orofaring, konjungtiva, saluran napas, kulit, kandung kemih, usus.Pada hari ke 9-10 fokus infeksi yang berada di epitel aluran nafas dan konjungtiva, 1-2 lapisan mengalami nekrosis. Pada saat itu virus dalam jumlah banyak masuk kembali ke pembuluh darah dan menimbulkan manifestasi klinik dari sistem saluran napas diawali dengan keluhan batuk pilek disertai selaput konjungtiva yang tampak merah. Respon imun yang terjadi adalah proses peradangan epitel pada sistem saluran pernapasan diikuti dengan manifestasi klinis berupa demam tinggi, anak tampak sakit berat dan ruam yang menyebar ke seluruh tubuh, tanpa suatu ulsera kecil pada mukosa pipi yang disebut bercak koplik. Muncul ruam makulopapular pada hari ke-14 sesudah awal infeksi dan pada saat itu antibody humoral dapat dideteksi.
Selanjutnya daya tahan tubuh menurun, sebagai akibat respon delayed hypersensitivity terhadap antigen virus terjadilah ruam pada kulit, kejadian ini tidak tampak pada kasus yang mengalami defisit sel-T. Fokus infeksi tidak menyebar jauh ke pembuluh darah. Vesikel tampak secara mikroskopik di epidermis tetapi virus tidak berhasil tumbuh di kulit. Daerah epitel yang nekrotik di nasofaring dan saluran pernapasan memberikan kesempatan serangan infeksi bakteri sekunder berupa bronkopneumonia, otitis media dan lain-lain. Dalam keadaan tertentu adenovirus dan herpes virus pneumonia dapat terjadi pada kasus campak.
4. Manifestasi klinik
a) Stadium inkubasi
Masa inkubasi sekitar 10-12 hari jika gejala-gejala prodromal pertama dipilih sebagai waktu mulai, atau sekitar 14 hari jika munculnya ruam yang dipilih, jarang masa inkubasi dapat sependek 6-10 hari. Kenaikan ringan pada suhu dapat terjadi 9-10 hari dari hari infeksi dan kemudian menurun selama sekitar 24 jam.
b) Stadium kataral (prodormal)
Biasanya stadium ini berlangsung selama 4- 5 hari disertai panas (38,5 ÂșC), malaise, batuk, nasofaringitis, fotofobia, konjungtivitis dan koriza. Menjelang akhir stadium kataral dan 24 jam sebelum timbul enantema, timbul bercak koplik yang patognomonik bagi morbili, tetapi sangat jarang dijumpai. Bercak koplik berwarna putih kelabu, sebesar ujung jarum dan dikelilingi oleh eritema. Lokalisasinya di mukosa bukalis berhadapan dengan molar bawah. Jarang ditemukan di bibir bawah tengah atau palatum. Bercak ini timbul dan menghilang dengan cepat, biasanya dalam 12-18 jam. Ketika mereka menghilang, bintik-bintik perubahan warna merah mukosa mungkin tetap. Kadang-kadang terdapat makula halus yang kemudian menghilang sebelum stadium erupsi. Gambaran darah tepi ialah limfositosis dan leukopenia. Secara klinis, gambaran penyakit menyerupai influenza dan sering didiagnosis sebagai influenza. Diagnosis perkiraan yang besar dapat dibuat bila ada bercak koplik dan penderita pernah kontak dengan penderita morbili dalam waktu 2 minggu terakhir.
c) Stadium erupsi
Koriza dan batuk-batuk bertambah. Timbul enantema atau titik merah di palatum durum dan palatum mole. Kadang-kadang terlihat pula bercak koplik. Terjadinya eritema yang berbentuk makula-papula disertai menaiknya suhu badan. Diantara makula terdapat kulit yang normal. Mula-mula eritema timbul dibelakang telinga, di bagian atas lateral tengkuk, sepanjang rambut dan bagian belakang bawah. Kadang-kadang terdapat perdarahan ringan pada kulit. Rasa gatal, muka bengkak. Ruam mencapai anggota bawah pada hari ketiga dan akan menghilang dengan urutan seperti terjadinya. Terdapat pembesaran kelenjar getah bening di sudut mandibula dan di daerah leher belakang. Terdapat pula sedikit splenomegali. Tidak jarang disertai diare dan muntah. Variasi dari morbili yang biasa ini adalah “black measles”, yaitu morbili yang disertai perdarahan pada kulit, mulut, hidung dan traktus digestivus.
d) Stadium konvalesensi
Erupsi berkurang meninggalkan bekas yang berwarna lebih tua (hiperpigmentasi) yang lama-kelamaan akan hilang sendiri. Selain hiperpigmentasi pada anak Indonesia sering ditemukan pula kulit yang bersisik. Hiperpigmentasi ini merupakan gejala patognomonik untuk morbili. Pada penyakit-penyakit lain dengan eritema dan eksantema ruam kulit menghilang tanpa hiperpigmentasi. Suhu menurun sampai menjadi normal kecuali bila ada komplikasi.
5. Pemeriksaan penunjang
a) Pemeriksaan laboratorium : sel darah putih cenderung turun.
b) Dalam sputum, sekresi nasal, sedimen urin dapat ditemukan adanya multinucleated giant cells yang khas.
c) Pada pemeriksaan serologis dengan cara hemagglutination inhibition test dan complemen fixation test akan ditemukan adanya antibodi Ig M yang spesifik dalam 1-3 hari setelah timbulnya rash dan mencapai puncaknya pada 2-4 minggu kemudian.
d) Punksi lumbal pada penderita dengan encephalitis campak biasanya menunjukkan kenaikan protein dan sedikit kenaikan limfosit.
e) Pada pemerisaan darah tepi hanya ditemukan adanya leukopenia.
f) Kadar glukosa normal.
6. Pengobatan/terapi
a) Campak tanpa penyulit :
• Rawat jalan.
• Cukup mengkonsumsi cairan dan kalori.
• Hidrokostison 100 – 200 mg/hari selama 3 – 4 hari.
• Prednison 2 mg/kgBB/hari untuk jangka waktu 1 minggu.
b) Campak dengan penyulit :
• Menyingkirkan komplikasi.
• Mengobati komplikasi bila ada.
• Merujuk ke rumah sakit bila perlu.
7. Proses Keperawatan
a. Pengkajian
Observasi umum :
• Kaji kemampuan anak untuk berpartisipasi dalam pemeriksaan.
• Inspeksi penampilan umum anak.
• Perhatikan :
1) Bernapas anak : sesak, batuk, coryza.
2) Ruam pada kulit, konjungtivitis dan fotofobia.
3) Suhu tubuh anak.
4) Pola tidur anak.
5) Pola eliminasi.
Pemeriksaan Fisik :
• Mata : terdapat konjungtivitis, fotophobia.
• Kepala : sakit kepala .
• Hidung : Banyak terdapat secret, influenza, rhinitis/koriza, perdarahan hidung (pada stadium erupsi ).
• Mulut & bibir : Mukosa bibir kering, stomatitis, batuk, mulut terasa pahit.
• Kulit : Permukaan kulit ( kering ), turgor kulit, rasa gatal, ruam makuler pada leher, muka, lengan dan kaki (pada stad. Konvalensi), evitema, panas (demam).
• Pernafasan : Pola nafas, RR, batuk, sesak nafas, wheezing, ronchi, sputum.
• Tumbuh Kembang : BB, TB, BB Lahir, Tumbuh kembang R/ imunisasi.
• Pola Defekasi : BAK, BAB, Diare.
• Keadaan Umum : Kesadaran, TTV.
A. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
1) Riwayat ibu hamil yang menderita morbili.
2) Riwayat imunisasi.
3) Riwayat kontak dengan penderita morbili.
4) Riwayat pengobatan/upaya pengobatan.
5) Makan makanan kurang gizi.
6) Kurangnya hygiene personal dan lingkungan.
B. Pola nutrisi metabolik
1) Apakah terjadi penurunan berat badan.
2) Apakah ada alergi makanan.
3) Apakah anoreksia.
4) Mual, muntah.
5) Kaji makanan kesukaan untuk memodifikasi diet.
C. Pola eliminasi
1) Diare
2) BAK : volume, berapa kali sehari, kepekatan urin.
D. Pola aktivitas dan latihan
1) Kelemahan, letih, lesu
2) Kebutuhan harian.
E. Pola tidur dan istirahat
1) Jumlah jam tidur
2) Pemakaian obat tidur
3) Lingkungan nyaman/tidak.
4) Kebiasaan sebelum tidur.
F. Pola persepsi dan kognitif
1) Apakah anak rewel/cengeng/cemas.
2) Penerimaan anak terhadap tindakan perawatan/medis.
3) Konjungtivitis
4) Nyeri edema
5) Kejang
6) gatal
G. Pola peran dan hubungan sosial.
1) Hubungan dengan orangtua dan saudara.
2) Peran anak dalam keluarga.
3) Kecemasan orangtua.
b. Pathway Keperawatan
c. Diagnosa Keperawatan (Doengoes, E Marylin,2000)
1. Gangguan rasa nyaman peningkatan suhu tubuh bd proses inflamasi
2. Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh bd anoreksia.
3. Resiko kurang volume cairan bd kehilangan sekunder terhadap demam.
4. Gangguan pola nafas bd inflamasi saluran nafas.
5. Gangguan persepsi sensori bd radang konjungtiva.
6. Gangguan integritas kulit yang berhubungan dengan proses penyakit morbili.
7. Inefektif bersihan jalan napas berhubungan dengan inflamasi trakeobronkial dan peningkatan produksi sputum.
d. Fokus Intervensi
1) Dx I : Gangguan rasa nyaman peningkatan suhu tubuh bd proses inflamasi.
Tujuan : Diharapkan suhu badan pasien berkurang dengan kriteria hasil :
• Suhu tubuh 36,6 – 37,4 0 C.
• Bibir lembab.
• Nadi normal.
• Kulit tidak terasa panas.
• Tidak ada gangguan neurologis ( kejang ).
Intervensi :
a. Monitor perubahan suhu tubuh, denyutan nadi.
b. Memberikan kompres dingin / hangat.
c. Berikan pakaian tipis dalam memudahkan proses penguapan
d. Libatkan keluarga dalam perawatan serta ajari cara menurunkan suhu dan mengevaluasi perubahan suhu tubuh.
e. Kolaborasi medis untuk pemberian terapi antipiretik.
2) Dx II : Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan anoreksia.
Tujuan : Diharapakan pasien menunjukkan peningkatan nafsu makan dengan kriteria hasil :
• BB meningkat
• Mual berkurang / hilang
• Tidak ada muntah
• Pasien menghabiskan makan 1 porsi
• Nafsu makan meningkat
• Pasien menyebutkan manfaat nutrisi
• Tidak ada tanda-tanda malnutrisi.
Intervensi :
a. Berikan sari buah yang banyak mengandung air.
b. Berikan susu atau makanan dalam keadaan hangat.
c. Berikan nutrisi bentuk lunak untuk membantu nafsu makan.
d. Berikan diet TKTP atau nutrisi yang adekuat.
e. Monitor perubahan berat badan, adanya bising usus, dan status gizi.
3) Dx III: Resiko kurang volume cairan b.d kehilangan sekunder terhadap demam.
Tujuan : Tidak terjadi kekurangan volume cairan tubuh dengan kriteria hasil :
• Turgor baik
• Produksi urine …cc/jam <0,5 – 1 cc/kg BB/jam
• Kulit lembab
• TTV dalam batas normal
• Mukosa mulut lembab
• Cairan masuk dan keluar seimbang
• Tidak pusing pada perubahan posisi
• Tidak haus
• Hb, Ht, dbn.
Intervensi Keperawatan :
a. Observasi penyebab kekurangan cairan : muntah, diare, kesulitan menelan, kekurangan darah aktif, diuretic, depresi, kelelahan
b. Observasi TNSR.
c. Observasi tanda – tanda dehidrasi.
d. Observasi keadaan turgor kulit, kelembaban, membran mukosa.
e. Monitor pemasukan dan pengeluaran cairan bila kekurangan cairan terjadi secara mendadak, ukur produksi urine setiap jam, berat jenis dan observasi warna urine.
f. Catat dan ukur jumlah dan jenis cairan masuk dan keluar perparetal.
Perhatikan : cairan yang masuk, kecepatan tetesan untuk mencegah edema paru, dispneu, bila pasien terpasang infus.
g. Timbang BB setiap hari.
4) Dx.IV: . Gangguan pola nafas bd inflamasi saluran nafas.
Tujuan : Pasien menunjukkan Status Respirasi: Ventilasi: Pergerakan udara ke dalam dan ke luar dari paru-paru yang normal dengan kriteria hasil:
• Menunjukkan pola pernapasan efektif, dibuktikan dengan status pernapasan yang tidak berbahaya: ventulasi dan status tanda vital.
• Menunjukkan status pernapasan: Ventilasi tidak terganggu, diotandai dengan indikator gangguan sebagai berikut (dengan ketentuan 1-5L ekstrem, kuat, sedang, ringan , tidak).
• Kedalaman inspirasi dan kemudahan bernapas.
Ekspansi dada simetris.
• Tidak ada penggunaan itot bantu.
• Bunyi napas tambahan tidak ada.
• Napas pendek tidak ada.
Intervensi :
a. Pantau adanya pucat dan sianosis
Pantau efek obat pada status respirasi.
Tentukan lokasi dan luasnya krepitasi di tulang dada.
b. Kaji kebutuhan insersi jalan napas.
c. Observasi dan dokumentasikan ekspansi dada bilateral pada pasien dengan ventilator.
d. Pemantauan Pernapasan :
Pantau kecepatan, irama, kedalaman dan suaha respirasi; perhatikan pergerakan dada, amati kesimetrisan, penggunaan otot-otot bantu, serta retraksi otot suprakla vikular dan interkostal; pantau respirasi yang berbunyi, seperti mendengar;
5) Resiko tinggi kerusakan integritas kulit bd penggarukan pruritus.
Tujuan: kulit tetap utuh dengan kriteria hasil :
• Permukaan kulit utuh.
• Tidak ada kemerahan dan luka.
Intervensi:
a. Jaga agar kuku tetap pendek dan bersih.
b. Pakailah sarung tangan atau restrein siku.
c. Berikan pakaian tipis, longgar, dan tidak mengiritasi.
d. Tutup area yang sakit (lengan panjang, celana panjang, pakaian satu lapis).
e. Berikan sedkit lotion yang melembutkan pada luka terbuka.
f. Hindari pemajanan panas atau sinar matahari
6) Gangguan integritas kulit yang berhubungan dengan proses penyakit morbili.
Tujuan : Integritas kulit baik dengan kriteria hasil :
• Permukaan kulit utuh.
• Tidak ada kemerahan dan luka.
Intervensi :
a. Observasi keadaan kulit selama masa perawatan.
b. Kaji pola nutrisi dan cairan anak.
c. Beri pakaian yang tipis dan menyerap keringat.
d. Ganti pakaian dan alat tenun bila basah.
e. Jaga kulit agar tetap bersih dan kering.
f. Beri terapi sesuai program medik.
7) Inefektif bersihan jalan napas berhubungan dengan inflamasi trakeobronkial dan peningkatan produksi sputum.
Tujuan :Bersihan jalan napas efektif dengan kriteria hasil :
• Tidak ada suara napas tambahan.
• Anak bebas dari tanda hiperkapnea, hipexia.
• Bebas dari sianosis, penggunaan otot dada untuk bernapas.
Intervensi :
a. Observasi pola napas anak, suara napas dan usaha anak untuk bernapas.
b. Catat dan laporkan gejala takipnea, napas cuping hidung.
c. Observasi warna kulit dan selaput lendir.
d. Observasi sputum : warna, bau, sifat.
e. Ajarkan napas mulut, teknik relaksasi dan latihan napas.
f. Isap lendir bila perlu.
g. Beri posisi semi fowler.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Morbili adalah penyakit infeksi virus akut yang ditandai oleh tiga stadium yaitu stadium kataral, stadium erupsi, dan stadium konvalensi (Suriadi, 2001: 211).
B. Saran
Agar tidak terserang penyakit Morbili kita dapat mencegahnya dengan cara :
1) Memberikan imunisasi campak yang dapat disuntikkan pada otot paha atau lengan atas.
2) Menjaga kebersihan dengan selalu mencuci tangan sebelum makan.
DAFTAR PUSTAKA
Doengoes, E Marylin(2000)Rencana Asuhan Keperawatan.EGC,Jkt
Edies Shank(2011), askep-morbili.html,
http://brajagssidodadi.blogspot.com,diakses 26 desember 2011
Hidayat, Aziz Alimul(2006)Pengantar Ilmu Keperawatan Anak.
Edisi pertama Salemba Medika -Jkt
Nurse87(2011), askep-morbilicampak-pada-anak,http://nurse87.wordpress.com,
diakses 25 Oktober 2011
Rheny, Raya(2010),campakmorbili.html,http://pengertianimunisasi.blogspot.com,
diakses 15 Januari 2011
PENDAHULUAN
A. Latarbelakang
Campak adalah endemik pada sebagian besar dunia. Campak sangat menular,sekitar 90% kontak keluarga yang rentan mendapat penyakit. Campak jarang subklinis. Sebelum penggunaan vaksin campak, puncak insiden pada umur 5-10tahun, kebanyakan orang dewasa imun.Sekarang di Amerika Serikat. Campak terjadi paling sering pada anak umur sekolah yang belum di imunisasi dan pada remaja dan orang dewasa muda yang telah di imunisasi. Biasanya penyakit ini timbul pada masa anak dan kemudian menyebabkan kekebalan seumur hidup
Bayi yang dilahirkan oleh ibu yang pernah menderita morbili akan mendapat kekebalan secara pasif (melalui plasenta) sampai umur 4-6 bulan dan setelah umur tersebut kekebalan akan mengurang sehingga bayi/anak dapat menderita morbili. Bila seseorang wanita menderita morbili ketika hamil 1 atau 2 bulan, maka 50% kemungkinan akan mengalami abortus, bila ibu hamil menderita morbili pada trimester I, II, atau III maka akan mungkin melahirkan seorang anak dengan kelainan bawaan atau seorang anak dengan BBLR, atau lahir mati atau anak yang kemudian meninggal sebelum usia 1 tahun. Campak adalah penyakit infeksi virus akut, menular yang ditandai dengan tiga stadium, yaitu stadium kataral, stadium erupsi, dan stadium konvalesensi. Nama lain penyakit ini adalah campak, measles, atau rubeola. Penularan terjadi secara droplet dan kontak langsung dengan pasien. Virus morbili terdapat dalam sekret nasofaring dan darah selama stadium kataral sampai 24 jam setelah timbul bercak di kulit.
A. Tujuan
1. Tujuan Umum
• Mengetahui penatalaksanaan kasus anak dengan Morbili
2. Tujuan Khusus
• Memahami proses terjadinya penyakit Morbili
• Memahami pengkajian kasus anak dengan Morbili
• Memahami perumusan diagnosa pada penyakit Morbili
• Memahami perumusan intervensi pada penyakit Morbili
BAB II
TINJAUAN TEORI
1. Definisi
• Morbili adalah penyakit infeksi virus akut yang ditandai oleh tiga stadium yaitu stadium kataral, stadium erupsi, dan stadium konvalensi (Suriadi, 2001: 211).
• Morbili adalah penyakit infeksi virus akut, menular yang ditandai dengan 3 stadium, yaitu stadium kataral, stadium erupsi, dan stadium konvalesensi. (Mansjoer, 2000 : 47).
• Campak adalah organisme yang sangat menular ditularkan melalui rute udara dari seseorang yang terinfeksi pada orang lain yang rentan (Smeltzer, 2001: 2443)
2. Etiologi
Campak adalah penyakit yang disebabkan oleh nfeksi virus Rubella, karena itu campak juga sering disebut Demam Rubella. Virus penyebab campak ini biasanya hidup pada daerah tenggorokan dan saluran pernapasan. Virus campak dapat hidup dan berkembang biak pada selaput lendir tenggorokan, hidung dan saluran pernapasan. Anak yang terinfeksi oleh virus campak dapat menularkan virus ini kepada lingkungannya, terutama orang-orang yang tinggal serumah dengan penderita. Pada saat anak yang terinfeksi bersin atau batuk, virus juga dibatukkan dan terbawa oleh udara. Anak dan orang lain yang belum mendapatkan imunisasi campak, akan mudah sekali terinfeksi jika menghirup udara pernapasan yang mengandung virus. Penularan virus juga dapat terjadi jika anak memegang atau memasukkan tangannya yang terkontaminasi dengan virus ke dalam hidung atau mulut. Biasanya virus dapat ditularkan 4 hari sebelum ruam timbul sampai 4 hari setelah ruam pertama kali timbul.
3. Patofisiologi
Penularannya sangat efektif, dengan sedikit virus yang infeksius sudah dapat menimbulkan infeksi pada seseorang. Penularan campak terjadi melalui droplet melalui udara, terjadi antara 1-2 hari sebelum timbul gejala klinis sampai 4 hari setelah timbul ruam. Di tempat awal infeksi, penggadaan virus sangat minimal dan jarang dapat ditemukan virusnya. Virus masuk kedalam limfatik lokal, bebas maupun berhubungan dengan sel mononuklear mencapai kelenjar getah bening lokal. Di tempat ini virus memperbanyak diri dengan sangat perlahan dan dari tempat ini mulailah penyebaran ke sel jaringan limforetikular seperti limpa.
Sel mononuklear yang terinfeksi menyebabkan terbentuknya sel raksasa berinti banyak Sedangkan limfosit T meliputi klas penekanan dan penolong yang rentan terhadap infeksi, aktif membelah. Gambaran kejadian awal di jaringan limfoid masih belum diketahui secara lengkap, tetapi 5-6 hari setelah infeksi awal, fokus infeksi terwujud yaitu ketika virus masuk kedalam pembuluh darah dan menyebar ke permukaan epitel orofaring, konjungtiva, saluran napas, kulit, kandung kemih, usus.Pada hari ke 9-10 fokus infeksi yang berada di epitel aluran nafas dan konjungtiva, 1-2 lapisan mengalami nekrosis. Pada saat itu virus dalam jumlah banyak masuk kembali ke pembuluh darah dan menimbulkan manifestasi klinik dari sistem saluran napas diawali dengan keluhan batuk pilek disertai selaput konjungtiva yang tampak merah. Respon imun yang terjadi adalah proses peradangan epitel pada sistem saluran pernapasan diikuti dengan manifestasi klinis berupa demam tinggi, anak tampak sakit berat dan ruam yang menyebar ke seluruh tubuh, tanpa suatu ulsera kecil pada mukosa pipi yang disebut bercak koplik. Muncul ruam makulopapular pada hari ke-14 sesudah awal infeksi dan pada saat itu antibody humoral dapat dideteksi.
Selanjutnya daya tahan tubuh menurun, sebagai akibat respon delayed hypersensitivity terhadap antigen virus terjadilah ruam pada kulit, kejadian ini tidak tampak pada kasus yang mengalami defisit sel-T. Fokus infeksi tidak menyebar jauh ke pembuluh darah. Vesikel tampak secara mikroskopik di epidermis tetapi virus tidak berhasil tumbuh di kulit. Daerah epitel yang nekrotik di nasofaring dan saluran pernapasan memberikan kesempatan serangan infeksi bakteri sekunder berupa bronkopneumonia, otitis media dan lain-lain. Dalam keadaan tertentu adenovirus dan herpes virus pneumonia dapat terjadi pada kasus campak.
4. Manifestasi klinik
a) Stadium inkubasi
Masa inkubasi sekitar 10-12 hari jika gejala-gejala prodromal pertama dipilih sebagai waktu mulai, atau sekitar 14 hari jika munculnya ruam yang dipilih, jarang masa inkubasi dapat sependek 6-10 hari. Kenaikan ringan pada suhu dapat terjadi 9-10 hari dari hari infeksi dan kemudian menurun selama sekitar 24 jam.
b) Stadium kataral (prodormal)
Biasanya stadium ini berlangsung selama 4- 5 hari disertai panas (38,5 ÂșC), malaise, batuk, nasofaringitis, fotofobia, konjungtivitis dan koriza. Menjelang akhir stadium kataral dan 24 jam sebelum timbul enantema, timbul bercak koplik yang patognomonik bagi morbili, tetapi sangat jarang dijumpai. Bercak koplik berwarna putih kelabu, sebesar ujung jarum dan dikelilingi oleh eritema. Lokalisasinya di mukosa bukalis berhadapan dengan molar bawah. Jarang ditemukan di bibir bawah tengah atau palatum. Bercak ini timbul dan menghilang dengan cepat, biasanya dalam 12-18 jam. Ketika mereka menghilang, bintik-bintik perubahan warna merah mukosa mungkin tetap. Kadang-kadang terdapat makula halus yang kemudian menghilang sebelum stadium erupsi. Gambaran darah tepi ialah limfositosis dan leukopenia. Secara klinis, gambaran penyakit menyerupai influenza dan sering didiagnosis sebagai influenza. Diagnosis perkiraan yang besar dapat dibuat bila ada bercak koplik dan penderita pernah kontak dengan penderita morbili dalam waktu 2 minggu terakhir.
c) Stadium erupsi
Koriza dan batuk-batuk bertambah. Timbul enantema atau titik merah di palatum durum dan palatum mole. Kadang-kadang terlihat pula bercak koplik. Terjadinya eritema yang berbentuk makula-papula disertai menaiknya suhu badan. Diantara makula terdapat kulit yang normal. Mula-mula eritema timbul dibelakang telinga, di bagian atas lateral tengkuk, sepanjang rambut dan bagian belakang bawah. Kadang-kadang terdapat perdarahan ringan pada kulit. Rasa gatal, muka bengkak. Ruam mencapai anggota bawah pada hari ketiga dan akan menghilang dengan urutan seperti terjadinya. Terdapat pembesaran kelenjar getah bening di sudut mandibula dan di daerah leher belakang. Terdapat pula sedikit splenomegali. Tidak jarang disertai diare dan muntah. Variasi dari morbili yang biasa ini adalah “black measles”, yaitu morbili yang disertai perdarahan pada kulit, mulut, hidung dan traktus digestivus.
d) Stadium konvalesensi
Erupsi berkurang meninggalkan bekas yang berwarna lebih tua (hiperpigmentasi) yang lama-kelamaan akan hilang sendiri. Selain hiperpigmentasi pada anak Indonesia sering ditemukan pula kulit yang bersisik. Hiperpigmentasi ini merupakan gejala patognomonik untuk morbili. Pada penyakit-penyakit lain dengan eritema dan eksantema ruam kulit menghilang tanpa hiperpigmentasi. Suhu menurun sampai menjadi normal kecuali bila ada komplikasi.
5. Pemeriksaan penunjang
a) Pemeriksaan laboratorium : sel darah putih cenderung turun.
b) Dalam sputum, sekresi nasal, sedimen urin dapat ditemukan adanya multinucleated giant cells yang khas.
c) Pada pemeriksaan serologis dengan cara hemagglutination inhibition test dan complemen fixation test akan ditemukan adanya antibodi Ig M yang spesifik dalam 1-3 hari setelah timbulnya rash dan mencapai puncaknya pada 2-4 minggu kemudian.
d) Punksi lumbal pada penderita dengan encephalitis campak biasanya menunjukkan kenaikan protein dan sedikit kenaikan limfosit.
e) Pada pemerisaan darah tepi hanya ditemukan adanya leukopenia.
f) Kadar glukosa normal.
6. Pengobatan/terapi
a) Campak tanpa penyulit :
• Rawat jalan.
• Cukup mengkonsumsi cairan dan kalori.
• Hidrokostison 100 – 200 mg/hari selama 3 – 4 hari.
• Prednison 2 mg/kgBB/hari untuk jangka waktu 1 minggu.
b) Campak dengan penyulit :
• Menyingkirkan komplikasi.
• Mengobati komplikasi bila ada.
• Merujuk ke rumah sakit bila perlu.
7. Proses Keperawatan
a. Pengkajian
Observasi umum :
• Kaji kemampuan anak untuk berpartisipasi dalam pemeriksaan.
• Inspeksi penampilan umum anak.
• Perhatikan :
1) Bernapas anak : sesak, batuk, coryza.
2) Ruam pada kulit, konjungtivitis dan fotofobia.
3) Suhu tubuh anak.
4) Pola tidur anak.
5) Pola eliminasi.
Pemeriksaan Fisik :
• Mata : terdapat konjungtivitis, fotophobia.
• Kepala : sakit kepala .
• Hidung : Banyak terdapat secret, influenza, rhinitis/koriza, perdarahan hidung (pada stadium erupsi ).
• Mulut & bibir : Mukosa bibir kering, stomatitis, batuk, mulut terasa pahit.
• Kulit : Permukaan kulit ( kering ), turgor kulit, rasa gatal, ruam makuler pada leher, muka, lengan dan kaki (pada stad. Konvalensi), evitema, panas (demam).
• Pernafasan : Pola nafas, RR, batuk, sesak nafas, wheezing, ronchi, sputum.
• Tumbuh Kembang : BB, TB, BB Lahir, Tumbuh kembang R/ imunisasi.
• Pola Defekasi : BAK, BAB, Diare.
• Keadaan Umum : Kesadaran, TTV.
A. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
1) Riwayat ibu hamil yang menderita morbili.
2) Riwayat imunisasi.
3) Riwayat kontak dengan penderita morbili.
4) Riwayat pengobatan/upaya pengobatan.
5) Makan makanan kurang gizi.
6) Kurangnya hygiene personal dan lingkungan.
B. Pola nutrisi metabolik
1) Apakah terjadi penurunan berat badan.
2) Apakah ada alergi makanan.
3) Apakah anoreksia.
4) Mual, muntah.
5) Kaji makanan kesukaan untuk memodifikasi diet.
C. Pola eliminasi
1) Diare
2) BAK : volume, berapa kali sehari, kepekatan urin.
D. Pola aktivitas dan latihan
1) Kelemahan, letih, lesu
2) Kebutuhan harian.
E. Pola tidur dan istirahat
1) Jumlah jam tidur
2) Pemakaian obat tidur
3) Lingkungan nyaman/tidak.
4) Kebiasaan sebelum tidur.
F. Pola persepsi dan kognitif
1) Apakah anak rewel/cengeng/cemas.
2) Penerimaan anak terhadap tindakan perawatan/medis.
3) Konjungtivitis
4) Nyeri edema
5) Kejang
6) gatal
G. Pola peran dan hubungan sosial.
1) Hubungan dengan orangtua dan saudara.
2) Peran anak dalam keluarga.
3) Kecemasan orangtua.
b. Pathway Keperawatan
c. Diagnosa Keperawatan (Doengoes, E Marylin,2000)
1. Gangguan rasa nyaman peningkatan suhu tubuh bd proses inflamasi
2. Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh bd anoreksia.
3. Resiko kurang volume cairan bd kehilangan sekunder terhadap demam.
4. Gangguan pola nafas bd inflamasi saluran nafas.
5. Gangguan persepsi sensori bd radang konjungtiva.
6. Gangguan integritas kulit yang berhubungan dengan proses penyakit morbili.
7. Inefektif bersihan jalan napas berhubungan dengan inflamasi trakeobronkial dan peningkatan produksi sputum.
d. Fokus Intervensi
1) Dx I : Gangguan rasa nyaman peningkatan suhu tubuh bd proses inflamasi.
Tujuan : Diharapkan suhu badan pasien berkurang dengan kriteria hasil :
• Suhu tubuh 36,6 – 37,4 0 C.
• Bibir lembab.
• Nadi normal.
• Kulit tidak terasa panas.
• Tidak ada gangguan neurologis ( kejang ).
Intervensi :
a. Monitor perubahan suhu tubuh, denyutan nadi.
b. Memberikan kompres dingin / hangat.
c. Berikan pakaian tipis dalam memudahkan proses penguapan
d. Libatkan keluarga dalam perawatan serta ajari cara menurunkan suhu dan mengevaluasi perubahan suhu tubuh.
e. Kolaborasi medis untuk pemberian terapi antipiretik.
2) Dx II : Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan anoreksia.
Tujuan : Diharapakan pasien menunjukkan peningkatan nafsu makan dengan kriteria hasil :
• BB meningkat
• Mual berkurang / hilang
• Tidak ada muntah
• Pasien menghabiskan makan 1 porsi
• Nafsu makan meningkat
• Pasien menyebutkan manfaat nutrisi
• Tidak ada tanda-tanda malnutrisi.
Intervensi :
a. Berikan sari buah yang banyak mengandung air.
b. Berikan susu atau makanan dalam keadaan hangat.
c. Berikan nutrisi bentuk lunak untuk membantu nafsu makan.
d. Berikan diet TKTP atau nutrisi yang adekuat.
e. Monitor perubahan berat badan, adanya bising usus, dan status gizi.
3) Dx III: Resiko kurang volume cairan b.d kehilangan sekunder terhadap demam.
Tujuan : Tidak terjadi kekurangan volume cairan tubuh dengan kriteria hasil :
• Turgor baik
• Produksi urine …cc/jam <0,5 – 1 cc/kg BB/jam
• Kulit lembab
• TTV dalam batas normal
• Mukosa mulut lembab
• Cairan masuk dan keluar seimbang
• Tidak pusing pada perubahan posisi
• Tidak haus
• Hb, Ht, dbn.
Intervensi Keperawatan :
a. Observasi penyebab kekurangan cairan : muntah, diare, kesulitan menelan, kekurangan darah aktif, diuretic, depresi, kelelahan
b. Observasi TNSR.
c. Observasi tanda – tanda dehidrasi.
d. Observasi keadaan turgor kulit, kelembaban, membran mukosa.
e. Monitor pemasukan dan pengeluaran cairan bila kekurangan cairan terjadi secara mendadak, ukur produksi urine setiap jam, berat jenis dan observasi warna urine.
f. Catat dan ukur jumlah dan jenis cairan masuk dan keluar perparetal.
Perhatikan : cairan yang masuk, kecepatan tetesan untuk mencegah edema paru, dispneu, bila pasien terpasang infus.
g. Timbang BB setiap hari.
4) Dx.IV: . Gangguan pola nafas bd inflamasi saluran nafas.
Tujuan : Pasien menunjukkan Status Respirasi: Ventilasi: Pergerakan udara ke dalam dan ke luar dari paru-paru yang normal dengan kriteria hasil:
• Menunjukkan pola pernapasan efektif, dibuktikan dengan status pernapasan yang tidak berbahaya: ventulasi dan status tanda vital.
• Menunjukkan status pernapasan: Ventilasi tidak terganggu, diotandai dengan indikator gangguan sebagai berikut (dengan ketentuan 1-5L ekstrem, kuat, sedang, ringan , tidak).
• Kedalaman inspirasi dan kemudahan bernapas.
Ekspansi dada simetris.
• Tidak ada penggunaan itot bantu.
• Bunyi napas tambahan tidak ada.
• Napas pendek tidak ada.
Intervensi :
a. Pantau adanya pucat dan sianosis
Pantau efek obat pada status respirasi.
Tentukan lokasi dan luasnya krepitasi di tulang dada.
b. Kaji kebutuhan insersi jalan napas.
c. Observasi dan dokumentasikan ekspansi dada bilateral pada pasien dengan ventilator.
d. Pemantauan Pernapasan :
Pantau kecepatan, irama, kedalaman dan suaha respirasi; perhatikan pergerakan dada, amati kesimetrisan, penggunaan otot-otot bantu, serta retraksi otot suprakla vikular dan interkostal; pantau respirasi yang berbunyi, seperti mendengar;
5) Resiko tinggi kerusakan integritas kulit bd penggarukan pruritus.
Tujuan: kulit tetap utuh dengan kriteria hasil :
• Permukaan kulit utuh.
• Tidak ada kemerahan dan luka.
Intervensi:
a. Jaga agar kuku tetap pendek dan bersih.
b. Pakailah sarung tangan atau restrein siku.
c. Berikan pakaian tipis, longgar, dan tidak mengiritasi.
d. Tutup area yang sakit (lengan panjang, celana panjang, pakaian satu lapis).
e. Berikan sedkit lotion yang melembutkan pada luka terbuka.
f. Hindari pemajanan panas atau sinar matahari
6) Gangguan integritas kulit yang berhubungan dengan proses penyakit morbili.
Tujuan : Integritas kulit baik dengan kriteria hasil :
• Permukaan kulit utuh.
• Tidak ada kemerahan dan luka.
Intervensi :
a. Observasi keadaan kulit selama masa perawatan.
b. Kaji pola nutrisi dan cairan anak.
c. Beri pakaian yang tipis dan menyerap keringat.
d. Ganti pakaian dan alat tenun bila basah.
e. Jaga kulit agar tetap bersih dan kering.
f. Beri terapi sesuai program medik.
7) Inefektif bersihan jalan napas berhubungan dengan inflamasi trakeobronkial dan peningkatan produksi sputum.
Tujuan :Bersihan jalan napas efektif dengan kriteria hasil :
• Tidak ada suara napas tambahan.
• Anak bebas dari tanda hiperkapnea, hipexia.
• Bebas dari sianosis, penggunaan otot dada untuk bernapas.
Intervensi :
a. Observasi pola napas anak, suara napas dan usaha anak untuk bernapas.
b. Catat dan laporkan gejala takipnea, napas cuping hidung.
c. Observasi warna kulit dan selaput lendir.
d. Observasi sputum : warna, bau, sifat.
e. Ajarkan napas mulut, teknik relaksasi dan latihan napas.
f. Isap lendir bila perlu.
g. Beri posisi semi fowler.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Morbili adalah penyakit infeksi virus akut yang ditandai oleh tiga stadium yaitu stadium kataral, stadium erupsi, dan stadium konvalensi (Suriadi, 2001: 211).
B. Saran
Agar tidak terserang penyakit Morbili kita dapat mencegahnya dengan cara :
1) Memberikan imunisasi campak yang dapat disuntikkan pada otot paha atau lengan atas.
2) Menjaga kebersihan dengan selalu mencuci tangan sebelum makan.
DAFTAR PUSTAKA
Doengoes, E Marylin(2000)Rencana Asuhan Keperawatan.EGC,Jkt
Edies Shank(2011), askep-morbili.html,
http://brajagssidodadi.blogspot.com,diakses 26 desember 2011
Hidayat, Aziz Alimul(2006)Pengantar Ilmu Keperawatan Anak.
Edisi pertama Salemba Medika -Jkt
Nurse87(2011), askep-morbilicampak-pada-anak,http://nurse87.wordpress.com,
diakses 25 Oktober 2011
Rheny, Raya(2010),campakmorbili.html,http://pengertianimunisasi.blogspot.com,
diakses 15 Januari 2011
Senin, 12 Maret 2012
Langganan:
Postingan (Atom)